Sudahkah Kita Menjadi Guru yang Mulia?

Wahai sahabat pendidik generasi bangsa, mampukah kita menjadi guru yang mulia?, menjadi Pribadi yang digugu dan ditiru?. Sudahkah kita menjadi guru yang mulia, ketika profesi sebagai guru sudah disandang?.
Guru yang mulia, adalah guru yang didamba dan dicintai oleh anak-anak didiknya, disegani bukan ditakuti, dihormati bukan dihindari dan disayangi karena ilmunya, pengetahuan luasnya tentang pengalaman hidupnya, bukan karena seringai marahnya.
Pendidik, apapun dan siapapun Anda, tatkala memiliki Amanah sebagai seseorang yang Patut Menjadi Contoh, PATUTKANLAH diri Anda untuk menyandang predikat seorang Guru yang Pendidik, bukan sekedar Pengajar. Karena, jika pengajar saja, Tukang Bakul Sayur yang diberikan Buku Paket Sekolah, juga BISA mengajar, dan mungkin jauh lebih baik dari Anda yang berpredikat Pengajar karena dibutuhkan sebuah institusi yang kehabisan guru meskipun Attitude Anda jauh dibawah Tukang Bakul Sayur.
Pastinya, sebelum kita memutuskan untuk menjadi seorang guru, hendaklah kita senantiasa intropeksi diri sendiri. Sudahkah kita memiliki karakter sebagai guru yang mulia, baik di mata keluarga, di mata siswa, di mata orang tua/wali murid maupun di mata masyarakat.
Secara etimologi kata guru berasal dari bahasa India yang artinya orang yang mengajar tentang kelepasan dari sengsara. Sedangkan dalam bahasa Arab guru dikenal dengan kata al-mu’alim atau al-ustadz yang bertugas memberikan ilmu dalam majlis ta’lim.
Jadi al-Mu’alim atau al-ustadz mempunyai pengertian sebagai orang yang mempunyai tugas untuk membangun aspek spriritualitas manusia.

Adapun pengertian guru secara umum adalah seseorang yang memiliki tugas sebagai fasilitator siswa dapat belajar dan mengembangkan potensi dasar dan kemampuannya secara optimal, melalui lembaga pendidikan sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat atau swasta. Sedangkan Prof. Zakiyah Daradjat menyatakan bahwa pengertian guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.
Dalam bahasa Indonesia, kata guru umumnya mempunyai makna merujuk kepada pendidik yang professional, dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Itulah sederet panjang makna guru. Jika disimpulkan, tugas sebagai guru adalah tugas yang berat untuk menjadi pendidik yang professional.
Sudahkah selama ini kita memahami, dan mengamalkannya? Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai guru, kadangkala ada yang memberi dukungan positif namun tidak sedikit pula yang memandang sebelah mata profesi ini. Namun, Rasulullaah Muhammad Salallaahu Alaihi Wasallaah adalah juga seorang guru. Beliau selalu mengajar dan mendidik para sahabatnya dengan menunjukkan contoh dalam sikap maupun tingkah laku dalam setiap aspek kehidupannya. Oleh sebab itu, sudah selayaknya Rasulullah kita dipanggil sebagai guru sepanjang zaman.
Rasulullah juga ditugaskan oleh Allaah Azza Wa Jalla untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rasulullah telah berhasil membuktikan bahwa beliau berhasil mendidik para sahabat beliau menjadi golongan yang dikagumi dan dirahmati Allah. Sebelum mengajar, seseorang tentu saja perlu menggali dan mengasah ilmunya terlebih dahulu. Karena tugas seorang guru dalam mendidik seseorang adalah ketika seseorang tersebut tidak bisa atau tidak tahu apa-apa menjadi orang yang tahu, mengubah akhlak dan budi pekerti seseorang dari yang tidak baik menjadi anak yang berbudi pekerti.
Guru juga harus memberikan sikap suri tauladan yang baik, memberikan contoh yang mulia kepada peserta didiknya dengan amalan dan tingkah lakunya sehari-hari. Oleh karena itu seorang yang sudah memutuskan untuk memilih profesi sebagai guru, hendaklah menyadari bahwa tugas dan tanggung jawabnya tidak mudah. Dia harus mampu menyampaikan ilmu dengan bijaksana dan ahli dalam bidangnya. Apalagi untuk zaman yang serba teknologi sekarang ini, seorang guru harus senantiasa mau mengupdate ilmunya, agar ia tidak dijuluki sosok guru yang gaptek alias gagap teknologi.
Lebih daripada itu, seorang guru yang mulia adalah guru yang berhasil mendidik dirinya terlebih dahulu. Sebelum ia terjun mendidik orang lain. Subhahannallah, sungguh mulianya profesi ini. Guru yang sukses bukan hanya guru yang mendapatkan gaji yang besar, tunjangan profesi, atau segudang prestasi dan sanjungan saja, tetapi guru yang sukses adalah seorang guru yang mampu mengubah anak muridnya memiliki akhlak, karakter dan perilaku yang baik.
Jika kita mau bercermin dari Rasulullah, beliau selalu mengajarkan kepada umatnya tentang Tauhid dan akhlak yang baik. Baginda Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkata kasar terhadap anak didik beliau dalam mengajar, beliau selalu berbicara lemah lembut dan tegas. Sebagai guru terbaik, baginda Rasulullah merupakan tauladan sepanjang masa hingga hari kiamat kelak. Golongan sahabat beliau dikenal sebagai orang yang hebat karena tidak lepas pengaruhnya dari pola didik yang telah diajarkan Baginda Rasul.
Rasulullah juga selalu membiasakan berdoa untuk umatnya, oleh karena itu kita sebagai guru hendaknya juga senantiasa mendoakan dan menyayangi anak murid kita. Terlebih lagi kepada siswa yang memerlukan bimbingan khusus dan pencapaian kompetensinya rendah. Dengan ilmu yang diperoleh, kita perlu memperbaiki mental, akhlak dan tingkah laku anak didik kita agar kelak menjadi generasi yang kuat, cerdas dan berakhlakul karimah.
Kita memang bukanlah Rasulullaah, namun kita harus terus mampu mengikuti Uswah Rasulullaah, agar Selamat Dunia Akhirat.
Jika Belum Mampu Menjadi Pendidik atau Guru, Jadilah Murid Yang Baik.
Maret 2017 – Khairu Dzulfikar (Fathan Mubiina Bojongkulur)