web analytics

Pengalaman tentang Kecerdasan Waskita

Tak critani yo pro konco. Winginane kan aku mlaku soko Colomadu menuju Pabelan. Jarak’e yo lumayan, ora pati adoh sih. Tapi enthuk pengalaman okeh…pas depan Lor In hotel yg asri kok kepethuk sama Bapak2 sepuh, embah2 tepatnya. Menaiki pit onthel dgn gembolan besuaaar sekali.

Sebenarnya saya ga sengaja melihat, karena pada saat itu tengah asyik memotret bunglon di pohon. Pas selesai moto liat Bapak sepuh itu, mungkin umurnya 80an. Dia parkir sepeda dan mengambil botol dan kemasan air mineral yg berserakan di pinggir jalan. Rupanya gembolan besar itu isinya limbah plastik yg akan dijual utk didaur ulang.

Masya Allah kekaguman saya tentu saja membuncah. Setua itu tetap berkarya, bahkan turut mendaur sampah yg dibuang oleh orang2 tak amanah dan tak sadar rahmah. Tak dekati beliau, tadinya mau saya foto, tapi saya pekewuh sendiri. Bantu tidak, ikut mengeksploitasi iya. Kan foto beliau dgn caption seperti di WA ini akan mengundang banyak like dan kekaguman follower saya. Iya kalo menginspirasi, tapi kalau cuma menjadi bagian dari narsisme saya sebagai makhluk sosial yg sok sosial bagaimana ?

Walhasil hanya saya pandangi saja, dan berniat nanti mau saya ceritakan pada teman2. Nah pagi ini janji saya sudah tertunaikan. Lalu saya tergerak juga untuk membantu, saya rogoh saku dan ada selembar uang lima ribu. Saya hampiri beliau dan berniat menyerahkan uang itu.
Apa yg terjadi ? Dengan senyum teramat sopan, dan tutur bahasa yg teramat halus, beliau berkata…”nuwun pangapunten Den, saya itu nyari botol, bukan minta2. Insya Allah akan ada yg lebih membutuhkan.
demikian ujar beliau sambil berlalu dgn pit onthelnya. Meninggalkan saya yg termangu, tepat di bawah pohon randu.

Tiba2 saya kok jadi rindu..rindu akan sikap itu bisa tercermin dari segenap bangsaku. Kita ini bukan bangsa peminta-minta yg berbudaya instan akibat teracuni sifat hedon…bukan…sekali lagi bukan. Dan saya pun terus berjalan, terik siang mulai mengganti sejuk pagi, dan eks Karesidenan Surakarta hari ini mencapai titik kulminasi suhu tinggi, 41°C.

Dan saya yg cerdas ini menggunakan baju,celana, serta topi hitam. Keren kan ? Konveksi dari radiasi saya serap sempurna, mungkin utk mengaktifkan sistem termodinamika yg baru saja dibahan bakari sepotong ayam kremes Mbak Wiwik yg kemarin saya ceritakan.

Sebelum dehidrasi terlanjur terjadi dan saya kehilangan konsentrasi, maka saya mampir di warung terdekat untuk rehidrasi. Sebotol air mineral saya beli dan saat membayar pemilik warung tidak punya kembali jika uangnya 100 ribu. Padahal saya hanya bawa 2 lembar, 100 dan 5 ribu tadi.
Sontak saya teringat bahwa di saku kemeja hitam ada uang 5 ribu, saya bayarkan dan terima kembali 2000.

Suara Mbah tadi terngiang, nanti akan ada yg butuh lo Den…iya benar sekali. Dan ajaibnya yg butuh itu saya sendiri. Utk hal yg justru tak ternilai harganya, air.

Jadi dari peristiwa ini, siapa yang sebenarnya disedekahi ? Siapa yang dibantu dan terbantu ? Tanyakan pada hatimu ya….

Professor Tauhid Nurazhar
Neuro Leadership Indonesia Forum – WA Group

Share ke teman-temanmu ya...